Setiap orang yang memiliki akal sehat selalu memikirkan bukan hanya kehidupan yang sedang dijalani, tetapi memikirkan masa depan. Baik diri sendiri maupun generasi penerusnya. Bagi orang beriman, masa depan itu meliputi kiehidupan kekinian (dunia) dan kenantian (akherat). Kesuksesan atau prestasi kekinian merupakan modal kesuksesan kenantian.
Tidakkah dunia ini merupakan lahan untuk menanam benih di akherat? Untuk meraih kesuksesan tsb, investasi merupakan syarat mutlak yang harus dilakukan. Dalam hal yang lazim, investasi merupakan penanaman sumber daya (modalitas) dengan keyakinan, bahwa pada masa tertentu akan menghsilakan modal litas yang jauh lebih besar dibanding
Modal yang ditatam. Selama masa tunggu tsb, memang belum bisa dirasakan manfaatnya secara langsung apa yang sudah ditanaman.
Investasi itu memiliki tiga kandungan, yaitu memerlukan waktu (return of investment : ROI), keyakinan akan berhasil, dan nilai yang melebihi nilai yang ditanam. Keyakinan merupakan syarat mutlak. Tanpa keyakinan, sesorang tidak melakukan investasi. Factor keyakinan tsb, baik atas dasar kalkulasi, eskperiensi, dan kajian yang berbasis rasionali-tis maupun keyakinan yang didasarkan prinsip-prinsip transcendental.
Sedekah merupakan salah satu bentuk investasi yang tidak hanya merupakan memberi-kan manfaat kekinian, tetapi juga memberikan manfaat kenantian. Kesiapan kejiwaan yang harus dimiliki orang yang akan melakukan investasi adalah kerelaan menunda untuk mendapatkan kemanfaatan langsung dari modal yang dimiliki, demi pemenuhan kebutu-han yang lebih besar.
Dalam kehidupannya, manusia selalu memiliki kebutuhan yang derajatnya (degree of need) ditentukan oleh probalitas partisipasi orang lain dalam memenuhi kebutuhan tsb. Semakin kecil porbalitas partisipasi orang lain, semakin tinggi derajat kebutuhannya, de-kian juga sebaliknya.
Ramadhan dengan segala macam keistimewaanya, merupakan saat yang paling tepat untuk melakukan investasi berupa serangkaian amal saleh, mulai pensucian diri dan pe-ngendalian diri, penambahan ilmu dan peningkatan kesadaran beragama, dan amal-amal yang memiliki dampak social.
Itu semua dalam rangka mencapai maqom taqwa. Sayyidina Ali menjelaskan bahwa taqwa memiliki empat dimensi, yaitu: "selalu takut kepada Allah SWT (Al khouf minal jalil), mejalankan apa yang telah diturunkan, yaitu Al-Qur'an (Al amalu bitattanziil), se-lalu ridha terhadap pemberian Allah (Arridha bil qolil), dan selalu berorientasi kepada hari akhir (Al isti'dad liyaumil rachil). * .Mohammad Nuh, rector dan guru besar ITS